Titik Titik Titik: Menjadi Avant-Garde Itu Tidak Mudah, Bung!!!

(Dimuat di Ketjilbergerak 29 Juni 2014. http://www.ketjilbergerak.org/titik-titik-titik-menjadi-avant-garde-itu-tidak-mudah-bung/) Ada 3 fase dalam hidup yang harus dijalani manusia: lahir, menjalani hidup, mati. Entah apabila ada fase lain yang disusun manusia berlainan, setidaknya itulah yang hendak disampaikan Moch. Gigin Ginanjar—atau yang lebih akrab dengan nama nyeniman Gigin ‘Rajin’ Sholat—dalam karya terbarunya bertajuk “…” (Titik Titik Titik). Karya yang... Continue Reading →

Steal If You Dare: Menggugat Revolusi Industri

(Pengantar untuk pameran seni rupa Steal If You Dare yang diadakan pada 21 juni 2014 di Klinik Kopi, Jogja) Pada tahun 1712, seorang pria berkewarganegaraan Inggris bernama Thomas Newcomen menemukan pompa air. Pompa yang dapat digunakan para pekerja tambang di pertambangan batubara di Inggris. Dengan penemuan pompa air itu, alih-alih menghabiskan waktu dan tenaganya untuk... Continue Reading →

Tradisional Itu Juga Keren: SEMAKBELUKAR

Semalam saya hadir ke sebuah festival musik di sebuah pusat seni dan budaya di selatan kampus saya yang berlokasi di Jl. Parang Tritis. Festival tahunan itu mengedepankan konsep eksplorasi musik nusantara. Setiap penampil didaulat mengeskplorasi satu atau lebih unsur musik nusantara dalam aransemen yang mereka bawakan. Baik itu dengan memainkan langsung instrument nusantara, maupun sekedar... Continue Reading →

Children of A Nation: Demokrasi Untuk Siapa?

(Dimuat di majalah Kombinasi edisi 52 tahun 2014) (Dimuat di Majalah Kombinasi edisi 52 tahun 2014) Ada presiden pertama Indonesia Soekarno yang tengah berpidato dengan berapi-api. Menceritakan Indonesia sebagai sebuah negara yang begitu indah dengan segala kelebihannya berupa kekayaan alam, dan kondisi damai tenteram sejahtera yang melingkupinya. Ini adalah adegan pembuka dari sebuah film dokumenter... Continue Reading →

Lapar

Pernahkah kau merasa lapar? Kenyang oleh harapan, namun sejatinya kau sedang kelaparan. Tapi tenang, mati datang saat kau lapar sebulan. Namun mati datang tak lebih dari seminggu saat kau haus. Ya. Kencangkan ikat pinggang! Teguk air banyak banyak. Bikin kenyang pikiran dengan imajinasi. Agar lupa pada perut yang marah. Dengan imajinasi, saat lapar batu pun... Continue Reading →

Kupu-Kupu Bersayap Pisau

Apa yang ingin terus kau ingat? Kupu-kupu bersayap pisau yang nampak cantik berwarna cerah, namun melukaimu dengan sayap pisau tajam? Kupu-kupu itu akan terbang berputar. Mengitarimu dengan konstan, terus ada di sekitarmu. Akan lebih baik apabila kau tangkap kupu-kupu itu dengan jaring bergagang panjang. Bungkus ia dengan plastik, lalu buang jauh-jauh ke seberang lautan. Oh... Continue Reading →

Sebuah Kuasa Bernama Seks

(Dimuat di Paper Zine # 12, januari 2014) “Everything in the world is about sex. Except sex. Sex is about power.” (Oscar Wilde) Ketika Ichan dari Paper Zine bertemu saya di Bandung bulan oktober kemarin, penggenjot BMX garis keras itu secara pribadi meminta saya menyumbang sebuah tulisan untuk edisi ke-12 Paper Zine. Dan jujur saya... Continue Reading →

Review: “Kekerasan Budaya Pasca 1965”

Gambar dari boemipoetra.wordpress.com Jika disuruh memilih hidup tenang namun dengan segala kepalsuan, atau hidup dengan kegelisahan karena mengetahui adanya kepalsuan yang mengatur hidup kita. Mana yang akan kita pilih? Saya otomatis memilih yang kedua setelah membaca buku karya Wijaya Herlambang berjudul Kekerasan Budaya Pasca 1965. Diterbitkan oleh penerbit Marjin Kiri pada bulan November 2013, buku... Continue Reading →

Mixtape: Musik Saat Hujan

Bagi kebanyakan orang hujan adalah fenomena alam biasa. Saat air tumpah dari langit membasahi bumi. Siklus alam yang memang rutin terjadi: Air di bumi menguap, berkumpul di cumulus nimbus, menjadi air lagi, lalu tumpah ke bumi. Inilah hujan. Namun bagi beberapa orang hujan dimaknai lebih dari sekadar fenomena alam. Hujan adalah sesuatu yang sentimentil, membangkitkan... Continue Reading →

Merenungi Absurditas Sisir Tanah

( Dimuat di Jakartabeat, 16 november 2013 http://jakartabeat.net/resensi/band/konten/merenungi-absurditas-sisir-tanah ) Apabila disuruh menyebutkan alasan mengapa saya tak bisa berhenti mendengarkan Sisir Tanah, tak lain adalah ada sesuatu yang menggelitik dari musik kolektif folk asal Yogyakarta ini. Sesuatu yang sederhana, namun subtil dan absurd. Sederhana dengan musik minimalis gitar bolong dan vokal berkarakter kuat Bagus Dwi Danto... Continue Reading →

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑