Mengenal Sepintas Organologi

Saya agak lupa waktu pastinya. Kalau tidak salah di semester kedua perkuliahan Etnomusikologi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta saya sempat mendapatkan mata kuliah organologi akustika. Mata kuliah ini diampu oleh seorang dosen yang sudah cukup senior (baca: berusia tua). Saya ingat benar di kala itu sang dosen sangat membanggakan buku yang ia tulis bertajuk Organologi dan Akustika Jilid 1 dan 2. Buku yang menjadi acuan kami selama kuliah, karena, memang tidak ada lagi buku lain yang berbahasa Indonesia membahas ilmu ini.

Di tugas akhir semester untuk mata kuliah ini, kami para mahasiswa mendapatkan tugas untuk menciptakan sebuah instrumen musik. Jenis dan bentuknya bebas, yang penting kami harus bisa menunjukkan di presentasi hal ini: 1) instrumen musik itu harus mampu berbunyi, dan 2) kami harus bisa menjabarkan dari mana sumber bunyi instrumen musik yang kami buat itu berasal.

Saya ingat waktu itu saya membuat instrumen tiup berupa sebuah suling bambu untuk tugas mata kuliah organologi akustika tersebut. Suling tersebut saya buat dengan laras (tangga nada) pelog Jawa. Dan saat presentasi saya menjelaskan bahwa suling ini tergolong sebagai instrumen aerophones, jenis instrumen yang sumber bunyinya berasal dari getaran udara yang melalui sebuah saluran angin.

Sederhananya, kira-kira demikianlah yang disebut sebagai ilmu organologi. Organologi dalam dunia seni musik adalah bidang ilmu yang mempelajari tentang alat musik. Alat musik dibagi atau dikelompokkan berdasarkan sumber bunyi, cara memainkan, dan fungsinya.

Erich von Hornbostel dan Curt Sachs dalam publikasinya di tahun 1914 berjudul Zeitschrift für Ethnologie melakukan klasifikasi instrumen musik menjadi 5 tipe:

1. Idiophones – instrumen musik yang menghasilkan bunyi yang bergetar (vibrating) dengan sendirinya (contoh Xylophone).

2. Membranophones – instrumen musik yang menghasilkan bunyi melalui getaran yang dihasilkan oleh membran (contoh Drum, Perkusi).

3. Chordophones – instrumen musik yang menghasilkan bunyi melalui getaran yang dihasilkan oleh senar (contoh Gitar, Biola).

4. Aerophones – instrumen musik yang menghasilkan bunyi melalui getaran yang memanfaatkan saluran angin (contoh Terompet, Suling).

5. Electrophones – instrumen musik yang memanfaatkan aliran listrik dan mengubahnya menjadi gelombang bunyi lalu diamplifikasi (Synthesizer, Theremin).

Klasifikasi ini dikenal dengan nama Hornbostel – Sachs system dan saat ini sudah berkembang namun masih menjadi dasar klasifikasi instrumen bagi pengkaji instrumen musik (organologi).

***

Pertanyaannya kemudian: apakah musisi perlu mempelajari dan paham organologi? Atau ilmu ini cukup dipelajari dan dipahami para pengkaji/akademisi/peneliti musik saja? Jawabannya, menurut hemat pribadi saya, keduanya perlu mengetahui organologi. Untuk para pengkaji musik, organologi sangat diperlukan untuk membedah suatu musik tertentu. Sedangkan untuk musisi, organologi akan menjadi bekal yang bagus dalam proses pengkaryaan mereka.

Menarik kemudian untuk mengkaji bagaimana Zeke and The Popo (ZATPP) adalah sebuah band yang mengedepankan desain bunyi dan eksplorasi bunyi. ZATPP adalah satu dari sedikit band yang mengutamakan eksplorasi bunyi dari instrumen musik—bahkan non-musik—dalam aransemen lagu-lagunya. ZATPP bahkan juga banyak menggunakan signal processing untuk manipulasi suara.

Maka, disadari atau tidak, ZATPP sebenarnya telah menerapkan ilmu organologi dalam proses kreatif bermusiknya. Ini terjadi ketika mereka memilah dan memilih berbagai instrumen yang cocok untuk aransemen sebuah lagu. Bahkan sampai menggunakan instrumen non-musik segala.

Organologi diperlukan dalam proses kreatif bermusik agar kita mengetahui sumber bunyi dari setiap instrumen. Kemudian dengan mengetahui sumber bunyi masing-masing instrumen, kita akan bisa menerapkan treatment yang berbeda-beda terhadap instrumen tersebut. Misalnya, kita tahu gitar tergolong instrumen chordophones, instrumen yang sumber bunyinya berasal dari senar atau dawai. Tentu perlakuannya akan berbeda dengan drum yang tergolong membranophones yang mana sumber bunyinya adalah membran yang bergetar.

Mengetahui sumber bunyi masing-masing instrumen dengan kacamata organologi juga penting agar kita tahu misalnya bagaimana timbre dari masing-masing instrumen, range nadanya, sampai frekuensi yang dihasilkan. Ini akan menjadi bekal luar biasa yang dapat digunakan untuk proses kreatif penciptaan musik.

Menyenangkan sekali mengetahui bahwa ZATPP—atau setidaknya Iman Fattah—telah melek perkara organologi ini dalam proses pengkaryaannya. Hasilnya dapat kita perhatikan dari lagu-lagu ZATPP, rentangan variasi instrumentasinya sungguh beragam. Ini dapat disimak setidaknya di album mereka Space in The Headline. 13 lagu yang ada di dalamnya sungguh berasa eklektik. Unik dari track pertama hingga track terakhir.

Saya merasa sedikit berdosa demi mengetahui bahwa satu-satunya buku referensi organologi berbahasa Indonesia adalah buku dari dosen saya tadi. Ini menandakan bahwa pembahasan mengenai organologi di Indonesia memang masih sedikit sekali. Paling mentok dikaji oleh mereka yang belajar disiplin ilmu musikologi dan etnomusikologi. Barangkali di kalangan musisi sendiri tidak banyak yang melek perkara ini. Saya membayangkan jika organologi lebih populer, proses kreatif penciptaan musik para musisi tentu akan lebih menarik dan lebih luas lagi. Seluas semesta Space in The Headline milik Zeke and The Popo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.