Musikmu adalah Obatmu

Untuk kebutuhan menulis tulisan ini, saya melontarkan sebuah pertanyaan kepada khalayak di media sosial. Pertanyaan saya kurang lebih begini: Di masa pandemi seperti ini menurut kawan-kawan mendengarkan musik tuh cukup membantu mengurangi stres enggak sih? Dan musik apa yang kalian dengarkan?

Jawaban dari pertanyaan itu kurang lebih bernada sama. Meski ada beberapa yang bilang bahwa musik tidak membantu mengurangi stres, namun sebagian besar khalayak sepakat bahwa musik membantu mereka mengurangi stres.

Bahkan ada satu orang yang menjawab begini “Aku terapi lagi ke RSJ. Dan aku menjadi tahu bahwa coping mechanism ku yg paling ampuh selain menulis dan jalan kaki adlh dengar musik. Aku selalu bikini playlist u/ kesegaran batin. Dua lagu yg berhasil membangunkan aku dari suicide adlh karya Rumahsakit & Beeswax.”

Luar biasa, musik rupanya membantu seseorang itu menghadapi kondisi mental tidak stabilnya dan bahkan mencegahnya dari tindakan melukai diri sendiri.

Satu setengah tahun belakangan ini adalah masa yang sulit. Pandemi menghantam seluruh dunia dan tidak pelak memengaruhi segala aspek kehidupan kita. Dalam rangka mencegah penyebaran COVID-19, setiap orang disarankan mengurangi mobilitas dan berada di rumah. Padahal, kita semua tentu setuju, berada di satu tempat yang sama sekian lama itu membosankan, dan, bikin sakit (baca: stres).

Maka, mendengarkan musik bisa jadi adalah satu dari sedikit hal yang bisa kita lakukan untuk membunuh kebosanan itu, bahkan mengurangi dampak yang lebih besar seperti stres atau gangguan jiwa.

Terkait pertanyaan saya di atas, setiap orang menjawab berbeda ihwal musik apa yang mereka dengarkan. Pop, rock, metal, dangdut, klasik, elektronik, K-pop, setiap orang menjawab berbeda sesuai apa yang mereka sukai.

Karena preferensi musik setiap orang memang berbeda, dan setiap orang punya resep racikan musiknya tersendiri untuk didengarkan saban hari.

Membaca respons kawan-kawan dari pertanyaan saya di atas membuat saya berpikir: secara ilmiah, apakah memang benar musik dapat membantu mengurangi stres? Lebih jauh lagi, apakah musik bisa membantu kita menata kestabilan mental kita?

Untuk menjawab pertanyaan itu saya akan mencoba menggunakan pendekatan psikologi musik.

Psikologi Musik

Dibandingkan disiplin ilmu lain yang mengkaji musik sebagai bentuk ilmu pengetahuan seperti musikologi atau etnomusikologi, psikologi musik bisa dibilang adalah sebuah cabang keilmuan yang masih sangat belia.

Di dalam psikologi musik, seorang pengkaji mengombinasikan musikologi atau etnomusikologi dengan psikologi kemudian mengkaji bagaimana musik memengaruhi kondisi psikologis manusia.

Kenapa menggabungkan disiplin ilmu tersebut? Karena tidak dapat dimungkiri musik dan psikologi bertautan sangat erat. Sebagai sebuah produk budaya, musik adalah sari pati atau endapan kondisi emosi dan psikologis musisi penciptanya, dan musik kemudian mampu memengaruhi kondisi psikologis pendengarnya.

Di dalam bukunya Psikologi Musik, Djohan Salim memaparkan kekuatan musik tersebut yang mampu menerabas kondisi psikologis seseorang.

“Musik pada hakikatnya dapat menerobos kondisi kesadaran seseorang dan mengantar ke tempat-tempat yang sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya. Proses yang melebihi materi keduniawian ini menimbulkan respons psikofisiologis saat kondisi seseorang berubah. Bila seseorang menggunakan musik untuk relaksasi, pikiran abstraknya akan bergeser ke kondisi normal. Ketika proses ini berlanjut, ia akan mengikuti sisa kondisi kesadaran, meningkatkan fase sensori, mimpi, trance, kondisi meditatif, dan terpesona,” jelas Djohan.

Saat kita dalam kondisi harus mengisolasi diri karena pandemi, kita akan selalu butuh melakukan sesuatu untuk membunuh waktu, menjaga pikiran kita tetap sibuk. Maka, musik lumayan tokcer menjadi alat menjaga pikiran kita agar tetap sibuk dan terfokus.

Siapa dapat menafikan keampuhan musik tersebut? Musik mampu membawa pikiran kita ke tempat-tempat yang tidak terbayangkan sebelumnya, atau mencelatkan kita ke memori atau kenangan tertentu yang kemudian bikin kita senyum sumringah, atau bahkan menangis karena haru.

Musik dapat menjadi alat terapi, dan manusia telah menggunakan musik sebagai alat terapi itu sejak sekian lama. Masih dalam bukunya Psikologi Musik, Djohan Salim memaparkan bahwa penggunaan musik sebagai alat terapi ini tercatat telah ada sejak abad ke 18. Cerita ihwal musik untuk penyembuhan ini dapat diketahui dari tulisan dalam kitab suci dan manuskrip mengenai sejarah pengobatan di Arab, Cina, India, hingga Yunani.

Di dunia modern, penggunaan musik sebagai terapi ini dapat dilacak dari terapis-terapis di Amerika Serikat pada era perang dunia kedua yang menggunakan musik untuk mengurangi efek trauma para veteran perang.

Di dalam psikologi musik juga dikenal sebuah term yang disebut sebagai Efek Mozart. Dikatakan bahwa apabila seorang Ibu hamil memperdengarkan musik gubahan Mozart pada bayi yang dikandungnya, maka perkembangan sang janin akan sangat bagus.

Coping Mechanism

Kembali ke pembahasan musik sebagai alat penghilang stres yang muncul di kala pandemi, musik dapat menjadi sebuah alat coping mechanism yang ampuh.

Di dalam ilmu psikologi dikenal yang namanya coping mechanism. Ini adalah strategi yang secara sadar kita terapkan untuk menangani stress, kecemasan, hingga depresi. Coping mechanism berfungsi sebagai alat untuk menjaga keseimbangan dan stabilnya emosi. Cara melakukan coping mechanism ini tentu berbeda di setiap individu. Ada yang melakukan olahraga, beberapa menggeluti hobi seperti berkebun atau piknik. Beberapa memutuskan memelihara kucing atau hewan peliharaan lainnya. Coping mechanism adalah metode unik yang bisa dilakukan sesuai masing-masing individu.

Dengan keampuhan musik yang mampu menerabas kesadaran kita sebagaimana dijelaskan oleh Djohan Salim dalam bukunya, kita juga dapat menggunakan musik sebagai alat coping mechanism.

Maka, pilihlah musik yang paling tepat dengan suasana hati, dan dengarkan dengan saksama. Nikmati setiap unsur dari musik itu, temponya, harmonisasi melodinya, ritmenya yang bikin goyang kepala, dan bangunan aransemen musik itu secara utuh.

Pilihan musik yang didengarkan sangat bisa beragam sesuai kondisi yang sedang kita alami. Kita dapat mendengarkan Didi Kempot untuk merenungi ke-ambyar-an hubungan asmara kita, mendengarkan musik religi untuk mereka yang tengah rindu ketenangan spiritual, atau mendengarkan musik karya Maudy Ayunda untuk merenungkan pencapaian-pencapaian apa yang telah kita raih dalam hidup kita.

Daripada merutuk dalam gelap, bukankah lebih baik jika kita menyalakan lilin dan menikmati pendar cahayanya? Maka, daripada menggerutu dan terjerumus dalam kubangan stres karena meratapi pandemi, bukankah lebih baik kita mendengarkan musik untuk menata kesadaran, emosi, kondisi psikologis, dan kewarasan kita?

Mendengarkan musik memang tidak akan menyelesaikan masalah yang muncul karena pandemi. Musik tidak akan menyediakan makanan di meja makan kita, musik tidak akan bisa membayar tagihan bulanan yang harus tetap dibayar meski pemasukan kita hilang karena pandemi.

Namun, setidaknya it ease the pain a little bit, ini bisa mengurangi rasa sakit yang muncul. Setidaknya stresmu berkurang dan pikiranmu kembali segar. Dengan memiliki pikiran dan emosi yang lebih segar dan stabil, siapa tahu kemudian kamu bisa memikirkan jalan keluar terbaik untuk mengatasi kondisi buruk yang muncul karena pandemi.

Musikmu adalah obatmu. Maka, pilih musik yang paling kamu gemari, setel musik itu dalam volume maksimal, nikmati dan resapi keindahannya, dan niscaya kamu akan menjadi orang yang paling bahagia sedunia.

Tulisan ini pernah dimuat di Pop Hari Ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.