Jalan Sunyi Musisi Perempuan di Kancah Sidestream yang Maskulin

Kancah musik sidestream adalah kancah yang maskulin. Saya ulangi: kancah musik sidestream adalah kancah yang maskulin. Saya memikirkan hal ini setelah membaca dua tulisan yang menurut saya berargumen cukup kuat. Pertama, adalah artikel bertajuk Menggugat Seksisme di Scene Kami yang ditulis oleh Anida Bajumi untuk Jurnal Ruang. Kedua, artikel berjudul Mencari Perempuan dalam Kritik Musik Kiwari yang ditulis oleh Idha Saraswati untuk serunai.co.

Pada artikel pertama, Anida Bajumi menggugat seksisme yang terjadi dalam kancah musik (sidestream). Dalam pandangannya, musisi perempuan kerap kali harus berjuang tiga hingga empat kali lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang sama dengan musisi laki-laki.

Seksisme juga kerap hadir dalam pernyataan-pernyataan seperti “wah pemain bassnya cewek, keren nih”. Anida menuding pernyataan semacam itu adalah bentuk seksisme yang maskulin karena perempuan seolah selalu hanya menjadi semacam “tempelan pemanis”. Alih-alih membahas misalnya skill atau kemampuan musisi perempuan, perkara sex appeal dan penampilan fisik yang selalu dikedepankan.

Pada artikel kedua, Idha Saraswati menggarisbawahi absennya perspektif gender dalam kajian atau kritik musik kiwari. Padahal menurut Idha “seperti produk budaya lainnya, sedikit banyak musik juga merepresentasikan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat tempatnya lahir. Oleh karena itu, melihat aspek gender dalam musik tidak hanya menarik tetapi juga penting untuk dilakukan.”

Lebih lanjut, Idha menemukan bahwa musisi perempuan sebenarnya ada begitu banyak, tetapi mengapa sulit sekali menemukan kritik musik kiwari yang mengulas musik-musik yang digubah oleh perempuan?

Setelah membaca dan memikirkan kedua argumen dari dua penulis tersebut, saya memikirkan pertanyaan ini: jangan-jangan memang benar, kancah musik—terutama sidestream—itu memang sungguh maskulin? Sebuah dunia yang diisi oleh laki-laki, dihidupi oleh laki-laki?

Saya kemudian berkaca pada kisah bagaimana Kartika Jahja alias Tika menjalani karier bermusiknya sebagai solois perempuan di tengah skena sidestream yang maskulin ini. Tika secara sengaja memilih jalan sunyi sebagai satu-satunya solois perempuan di angkatannya yang berjibaku dengan kemaskulinan skena alias kancah musik arus samping ini.

Tika hadir dengan persona yang ia yakini. Ia seolah tidak peduli dengan pakem di dunia musik—mainstream maupun sidestream—yang menstandarkan seorang solois perempuan harus “good looking” dan memiliki aura diva.

Meski awalnya sangat tidak pede, Tika beruntung karena berada di antara rekan-rekan bermusik yang mendukungnya sepenuh hati. Mereka bersama-sama mematahkan ekspektasi industri bahwa penyanyi perempuan harus a la a la diva gitu.

Setali tiga uang dengan argumen Anida Bajumi, secara tidak langsung kehadiran Kartika Jahja menggugat seksisme dan maskulinitas dalam skena musik sidestream di Indonesia. Tika hadir dengan gaya “suka suka gue”, atau “tubuhku otoritasku” jika meminjam judul salah satu lagunya. Ia tidak peduli—atau malah menggugat—keyakinan publik bahwa musisi perempuan sering hadir hanya sebagai “tempelan pemanis”. Tidak seperti itu, faktanya Tika malah menjadi sosok sentral yang berperan paling penting dalam kegiatan bermusiknya, bukan tempelan.

Jika kita baca berdasarkan argumen Idha Saraswati bahwa perspektif gender sangat diperlukan ketika kita mengkaji musik. Maka, dapat kita baca bahwa Kartika Jahja adalah sosok musisi perempuan yang sangat sadar dengan perspektif gender ini.

Baik dari attitude, persona, sampai ke pemilihan tema lagu berupa musik dan lirik, tampak benar betapa meleknya Tika akan pentingnya perspektif gender ini. Tika justru menggunakan musiknya sebagai medium untuk menggetok kesadaran publik akan pentingnya melek perspektif gender.

Apabila kita lacak dari semua diskografinya, tampak bagaimana lagu-lagu Tika jauh dari ihwal menye-menye. Tika malah bicara tentang kemanusiaan, perjuangan kelas, hingga ihwal kesetaraan gender dan gugatan kepada society bahwa perempuan berhak dan harusnya memiliki posisi yang setara dengan laki-laki.

Ada saat kala Tika sempat mengungkapkan keinginannya untuk berhenti bermusik. Walau pada akhirnya Tika tetap melanjutkan karier bermusiknya, pikiran selintas untuk berhenti tersebut tentu sangat beralasan dan bisa dipahami: Tika barangkali merasa sangat kesepian dalam jalan sunyinya sebagai musisi perempuan di kancah sidestream yang maskulin.

Kita beruntung bahwa Tika mengurungkan niatnya berhenti bermusik itu. Kita butuh sosok seperti Tika untuk menyadarkan kita, menggetok kesadaran kita tentang pentingnya melek perspektif gender di kehidupan sehari-hari kita. Melalui musiknya, Tika terus berupaya menyebarkan paham kesetaraan gender tersebut. Mari berharap Tika tetap tabah dalam jalan sunyinya ini, agar perjuangannya terus berlanjut sampai kapan pun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.