Apa Kabar Musik Religi Sekarang?

Akulah para pencarimu ya Allah / Akulah yang merindukanmu ya rabbi / Hanya di jalanmu ya Allah / Tempat ‘ku pasrahkan hidupku.”

Jauh sebelum menjadi politikus dan menjabat sebagai wakil walikota Palu, Sigit Purnomo Syamsuddin Said adalah sosok yang mendendangkan selarik lirik di atas. Tetapi, siapa Sigit Purnomo Syamsuddin Said? Nama itu terdengar asing. Sosok ini punya nama panggilan yang mungkin lebih familiar di kuping kita: Pasha. Dia lah yang mendendangkan lagu “Para PencariMu” bersama bandnya Ungu.

Dirilis pada 2007 silam, “Para PencariMu” adalah satu dari banyak lagu-lagu bertema religi yang dipasarkan tiap bulan suci ramadan tiba di Indonesia. Ungu dan album religinya adalah bagian dari apa yang bisa kita sebut sebagai “ramadan bubble”.

Bubble kerap terjadi di banyak sektor kehidupan, misalnya bubble batu akik, atau bubble tanaman hias anthurium, bubble tulip, hingga bubble dot com. Bubble terjadi ketika satu komoditas tertentu meledak di pasaran, harganya melambung tinggi, hingga harganya menjadi tidak masuk akal dan akhirnya gelembung itu meletus, hilang.

Ramadan Bubble adalah gelembung yang sama, ia adalah gelembung musiman yang muncul saban setahun sekali di Indonesia. Ketika bulan suci umat Muslim ini tiba, sebagian besar orang atau usaha tiba-tiba berlomba-lomba mencitrakan diri sebagai sosok yang agamis. Semua produk jualan harus dipoles dengan narasi ramadan agar bisa laku di pasaran. Contohnya, salah satu merek sirup yang iklannya di televisi kerap muncul sebulan sebelum ramadan tiba. Atau simak bagaimana Para Pencari Tuhan, sinetron yang muncul saban ramadan ini bertahan dan tayang hingga 13 seasons.

Seperti lazimnya bubble, gelembung ramadan ini akhirnya akan meletus juga dan berhenti dibincangkan atau diperjualbelikan saat lebaran tiba. Setelah perayaan penutup bulan suci ini, semua kembali menjadi hari-hari yang biasa.

Demikian juga dengan Ungu, pasca-ramadan, mereka melepas lagi baju koko dan serban yang sebelumnya mereka kenakan selama sebulan. Ungu kembali ke khitah-nya sebagai band pop dengan musik dan lirik mengenai percintaan sepasang kekasih.

Ungu hanya satu contoh. Faktanya ada begitu banyak musisi lain yang banting setir mengkomposisi dan menampilkan musik bertema religi ketika ramadan tiba. Dekade 2000an adalah tahun-tahun gemilang untuk musik bertema religi. Misalnya Gigi. Album religi pertama mereka Raihlah Kemenangan yang dirilis pada 2004 silam adalah sebentuk kesuksesan besar. Hingga akhirnya Gigi membuat tradisi merilis album atau single religi setiap bulan ramadan tiba.

Ungu dan Gigi adalah contoh dari moncernya lagu bertema religi di dekade 2000an. Lalu muncul pertanyaan: apa kabar musik religi sekarang?

Di masa sekarang, tahun 2021, atau mundur hingga lima tahun ke belakang, meski tidak seriuh dekade 2000an, musik bertema religi sebenarnya masih eksis.

Pada 2020 misalnya, Ungu merilis sebuah album kompilasi (semacam the best of…) bertajuk Top Hits Religi UNGU. Album ini berisi lagu-lagu-lagu religi mereka yang sempat ngehits dari beberapa tahun sebelumnya.

Lagu-lagu religi pasca2000an ini juga tidak seeksplisit lagu-lagu tahun 2000an yang secara langsung menggunakan judul atau lirik lagu yang berkesan Islami. Para musisinya juga tidak lantas mengenakan baju gamis atau mengenakan serban untuk menampakkan kesan religius.

Kita bisa simak dari lagu milik Letto. Band asal Yogyakarta yang lagu-lagunya terkesan sebagai lagu pop niaga, namun sebenarnya memiliki lirik lagu yang sungguh religius seperti “Sandaran Hati”, “Ruang Rindu”, atau “Sebelum Cahaya.” Para personel Letto juga tidak mengenakan pakaian gamis atau serban ketika tampil langsung. Mereka tampil dengan gaya kasual.

Ada pergeseran yang sangat kentara terjadi. Lagu-lagu religi era 2000an yang sebelumnya menggunakan lirik yang tersurat, beberapa tahun belakangan menjadi lebih tersirat. Bisa dibilang cara mainnya lebih soft, dengan musik yang enggak melulu berbau ke-Arab-Arab-an, dan dengan lirik penuh metafora yang lebih soft.

Contohnya Base Jam, band yang sangat sukses di dekade 90an dan sempat pisah jalan namun akhirnya kembali reuni, turut serta mencoba peruntungan di bulan ramadan dengan merilis satu single baru bertajuk “Kusambut Ramadhan” pada sembilan April yang lalu.

Contoh lainnya adalah MALIQ & D’essentials yang pada awal April tahun ini merilis sebuah single bertajuk “Langkah Baikmu Berarti.” Seperti yang disebutkan di atas, di lagu ini MALIQ menggubah sebuah lagu religi dengan sangat soft. Musiknya khas MALIQ: sedikit jazzy.

Namun, lagu yang merupakan hasil kerja sama MALIQ dengan salah satu produk kosmetik ini menyelipkan lirik yang subtil. Liriknya tidak secara terang benderang menyinggung ihwal spiritualitas. Namun, dari lirik—dan bagaimana MALIQ bekerja sama dengan salah satu produk kosmetik yang dikenal sebagai produk Islami—kita dapat menyimpulkan bahwa lagu tersebut merupakan lagu religi.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: kenapa para musisi yang sebelumnya dikenal sebagai musisi “pop niaga” tiba-tiba banting setir menjadi musisi dengan lagu religi?

Jawabannya sederhana: dalam industri (musik) laba adalah segalanya.

Para musisi yang banting setir ini menggubah dan menampilkan lagu religi dengan tujuan agar bisa menikmati potongan kue dari revenue atau laba dalam industri musik nasional.

Laba dari jualan musik religi ini sungguh menggiurkan. Sebagai negara dengan penduduk penganut Muslim terbesar di dunia, ini adalah pangsa pasar yang sangat menjanjikan untuk musik religi.

Tapak tilas ke belakang kita dapat menyimak bagaimana pada 1999, Hadad Alwi dan Sulis mampu menjual album Cinta Rasul 1 sebanyak 1.3 juta keping. Wajar jika kemudian musisi yang bergerak di arus utama banting setir merilis lagu religi demi ikut menikmati potongan kue revenue. Selayaknya Ahmad Albar yang merilis lagu bertema dangdut “Zakia” ketika dangdut moncer di dekade 80an.

Bicara mengenai musik yang dibawakan, beberapa musisi ini ada yang menciptakan sendiri lagu religi mereka. Namun, ada pula yang membawakan ulang lagu-lagu religi populer seperti lagu milik Bimbo. Bentuk musik religi yang ditawarkan pun kurang lebih seragam. Bentuk musik pop niaga dengan sedikit pattern semenanjung Arab yang dibalut dengan lirik bertema religi seperti memohon ampunan atas dosa yang telah dilakukan, perenungan spiritual, atau harapan agar bisa mengetuk pintu surga.

Jika kita amati, booming lagu bertema religi ini muncul di medio 2000an, tepat setelah Hadad Alwi dan Sulis mahsyur sebagai musisi yang fokus membawakan lagu religi, Namun, sebenarnya ada banyak musisi yang membawakan lagu bertema religi sepanjang tahun. Artinya mereka bukan hanya merilis lagu religi saat ramadan. Mereka konsisten menciptakan dan menampilkan lagu religi sepanjang tahun.

Sebut saja di antaranya Bimbo. Atau Rhoma Irama dan Soneta yang memiliki lagu-lagu bertema religi, dan jangan lupakan Raihan dengan musik nasyid-nya yang sangat digemari pada masanya. Di luar musik pop niaga semacam Ungu atau Gigi, ada juga musisi yang seolah tidak peduli dengan pola standar industri pop di Indonesia. Alih-alih membawakan musik pop niaga, mereka membawakan sebentuk musik religi yang dikenal sebagai kasidah. Grup yang semua personelnya adalah perempuan ini bernama Nasida Ria.

Nasida Ria adalah kelompok musik kasidah modern yang terbentuk pada 1975 di Semarang, Jawa Tengah. Didirikan oleh HM Zain, seorang guru mengaji. Pada awal karirnya Nasida Ria beranggotakan sembilan orang perempuan yang merupakan murid HM Zain. Sembilan perempuan tersebut adalah Mudrikah Zain, Mutoharoh, Rien Jamain, Umi Kholifah, Musyarofah, Nunung, Alfiyah, Kudriyah, dan Nur Ain.

Mulanya Nasida Ria hanya menggunakan instrumen rebana sebagai pengiring nyanyian yang mereka dendangkan. Belakangan mereka menambahkan organ, bass, biolin, dan gitar sebagai instrumen pengiring. Album perdana Nasida Ria Alabaladil Makabul dirilis oleh Ira Puspita Records. Lagu-lagu mereka setali tiga uang dengan lagu Rhoma Irama dan Soneta Group: digunakan sebagai media dakwah. Nasida Ria banyak terinspirasi dari qasidah, musik yang aslinya berasal dari semenanjung Arab.

Qasidah merupakan sejenis musikalisasi puisi yang berkembang di semenanjung Arab. Tidak jelas kapan awal mulanya qasidah masuk ke Nusantara. Namun, beberapa penyanyi menyatakan bahwa qasidah dikenalkan ke Nusantara dari Malaysia pada 1960-an. Setelah masuk ke Indonesia, terjadi beberapa perubahan dalam bentuk qasidah. Di antaranya adalah diserapnya nama qasidah, dan diubah ke bahasa Indonesia menjadi kasidah. Bagi kebanyakan orang Indonesia, lirik qasidah yang berbahasa Arab seringkali sulit dimengerti maknanya. Maka, banyak grup kasidah yang kemudian menggunakan bahasa Indonesia sebagai liriknya.

Nasida Ria bisa disebut sebagai kelompok kasidah modern karena menerapkan formula ini. Mereka menggunakan bahasa Indonesia dalam lirik lagunya agar lebih mudah dipahami oleh mayoritas umat muslim di Indonesia. Nasida Ria juga menambahkan instrumen modern dan elektronik di luar rebana. Di antaranya adalah organ, tamborin, ketipung, mandolin, gitar, bass, dan seruling. Musik Nasida Ria juga bukan hanya kental dengan unsur Arab seperti qasidah, mereka mencampurkan unsur dangdut. Pencampuran musik ini jelas bukan tanpa alasan. Nasida Ria menjumput unsur dangdut agar musik mereka makin dikenal luas. Mereka mengikuti jejak Rhoma Irama dan Soneta Grup yang sukses secara komersial karena menggunakan dangdut sebagai media dakwah.

Varian dangdut bercampur kasidah seperti yang dimainkan oleh Nasida Ria ini dikenal sebagai kasidah modern, genre musik yang mengedepankan pesan-pesan religius dalam bentuk hiburan.

Pakar mitologi Joseph Campbell menyatakan bahwa manusia membangun candi, masjid, atau gereja dengan mengedepankan aspek akustika suara di bangunan itu. Ini karena manusia sedang menirukan akustik dalam sebuah gua, tempat manusia generasi pertama merasakan kerinduan spiritual. Tentu saja manusia tidak akan mampu menangkap standar akustik dalam gua secara persis, apa yang bisa dilakukan adalah membangun peniruan itu dengan simplifikasi.

Maka, apapun bentuknya, baik musik pop niaga a la Ungu atau Gigi, atau bentuk musik tradisi kasidah seperti yang dibawakan Nasida Ria, tidak dapat dimungkiri bahwa musik adalah upaya simplifikasi tersebut. Kita adalah manusia yang merindukan pengalaman spiritual. Wajar jika sebagian besar Muslim di Indonesia mudah menerima lagu semacam “SurgaMu” milik Ungu.

Terlepas dari motif atau intensi musisi yang menciptakan lagu religi demi meraup untung dari industri musik, kita tetap patut mengapresiasi lagu-lagu religi ini. Perkara motif bisnis musik itu lain soal. Yang lebih penting adalah bagaimana mayoritas Muslim di Indonesia memiliki katarsis untuk memupuk keimanan dan mengobati kerinduan spiritual mereka.

Jadi, apa kabar musik religi sekarang? Setelah dua dekade, musik bertema religi di Indonesia tampaknya masih akan selalu hadir hingga beberapa tahun ke depan. Walaupun tidak seriuh tahun 2000an. Ramadan bubble akan tetap terjadi setahun sekali di bulan suci penuh berkah. Setelah lengser keprabon dari jabatannya sebagai wakil walikota Palu pada 17 Februari silam, bisa saja Pasha kembali berkarya bersama Ungu dan menciptakan lagu religi lainnya.

Sekarang mari kita berharap dan berdoa agar musik-musik religi tersebut bermanfaat untuk tubuh dan pikiran kita, untuk badan dan jiwa kita.

Catatan: Pernah dimuat di Pop Hari Ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.