Selamat Jalan The Godfather of Broken Heart

Belum juga air mata mengering karena kepergian Glenn Fredly, Andy Ayunir, dan Erwin Prasetya, kabar duka kembali datang. Selasa (05/5), penyanyi musik campursari legendaris Didi Kempot meninggal dunia. Lord Didi diduga meninggal dunia karena serangan jantung.

Glenn Fredly, Andy Ayunir, Erwin Prasetya, dan Didi Kempot. Semuanya adalah musisi handal yang dicintai banyak orang. Dan mereka berpulang, kepulangan itu sepertinya terlampau cepat.

Sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh dewasa di kultur Jawa, nama Didi Kempot tidak asing untuk saya. Sejak kecil saya sudah karib dengan tembang-tembang penyanyi yang memiliki nama asli Didik Prasetyo ini.

Kebetulan bapak dan paklik saya gandrung dengan campursari, selain Manthous, Lord Didi tentu saja masuk dalam senarai putar mereka berdua. Dari koleksi VCD bajakan Didi Kempot milik bapak dan paklik yang dibeli pas hari pasaran wage di lapak VCD bajakan Pasar Karangpandan itulah saya mengenal Lord Didi.

Melacak sejarah lahirnya musik campursari, kita bisa berkaca pada C Hardjosubroto, seniman kelahiran Yogyakarta ini bisa dibilang meletakkan embrio campursari. Ia membuat seni tradisional gamelan lebih fleksibel menghadapi zaman.

Almarhum Manthous kemudian menjadi sosok musisi yang mempelopori aliran musik campursari bersama Campur Sari Gunung Kidul (CSGK) pada medio 70an. Namun, Didi Kempot lah yang bisa dibilang makin mempopulerkan campursari ke level kemahsyuran yang tak terduga sebelumnya pada era 80an, sampai sekarang.

Campursari adalah sebuah genre musik yang unik. Musik ini merupakan padu padan dari unsur karawitan Jawa dan instrumen musik modern. Ada alih wahana terjadi di sini. Di campursari, laras pentatonis pelog dan slendro dari karawitan Jawa dimainkan melalui medium instrumen modern seperti kibor, gitar, dan bass. Umumnya, bangunan musik ini kemudian ditambahi kendang di departemen ritmis, dan dua atau tiga pasang saron untuk kian menebalkan rasa njawani.

Dapat dibilang campursari merupakan penyederhanaan ansambel gamelan Jawa yang begitu banyak ragam instrumennya. Campursari meringkas tatanan instrumen itu menjadi lebih simple. Dalam tatanan aransemen, campursari juga menyederhanakan bentuknya, alih-alih bentuk gending karawitan Jawa semisal ketawang atau ladrang yang rumit dan sophisticated, campursari malah menyajikan bentuk musik yang bisa dibilang cukup ‘ngepop’.

Inilah kelebihan Didi Kempot. Musiknya yang bisa dibilang cukup “ngepop” namun tetap berasa njawani ini yang menjadikannya mudah diterima oleh banyak penikmat musik. Jika menelisik lebih jauh, secara spesifik penikmat musik dari kalangan menengah ke bawah.

Musik Didi Kempot khas dengan karakter cengkok dan rasa-nya yang Jawa banget. Dalam satu wawancara dengan Warning Magz, Lord Didi malah mengaku musiknya bisa dibilang campursari, bisa dibilang cong-dut alias keroncong-dangdut. Alasan memilih musik jenis cong-dut adalah agar musiknya lebih bisa diterima anak muda. Dan ternyata memang benar, musik cong-dut a la Lord Didi moncer di kalangan anak muda.

Didi Kempot menjadi semacam Godfather, pahlawan bagi kaum menengah ke bawah. Musiknya vernakular, tumbuh, berkembang, dan didengarkan di wilayah pinggiran. Dan liriknya adalah pengejawantahan dari suara hati kaum pinggiran. Tentang kisah cinta yang tak tergapai, perjumpaan dan perpisahan sepasang kekasih, ketidakberuntungan mereka di ranah ekonomi, kritik sosial, serta refleksi ke-ambyar-an duniawi lainnya.

Refleksi musik Didi Kempot sebagai suara akar rumput ini tampak dari bagaimana lagu-lagunya banyak mengambil judul—dan isi lirik—nama tempat umum. Sebut saja “Stasiun Balapan”, “Terminal Tirtonadi”, “Tanjung Mas Ninggal Janji”, “Parang Tritis”, hingga “Sewu Kutho”.

Tiga yang disebut pertama, stasiun, terminal, dan pelabuhan, adalah tempat di mana perpisahan kerap terjadi. Seseorang mengantar orang terdekatnya, dan berpisah. Didi Kempot dengan cerdas menggunakan tempat-tempat itu untuk merefleksikan kisah cinta yang harus usai. Tentang kekasih yang harus pergi, dan mungkin tak kembali.

Musik campursari Didi Kempot menegaskan bahwa menjadi nggrantes alias sedih itu adalah lumrah dan manusiawi. Bahwa cowok atau cewek berhak dan boleh bersedih, lalu menangisi kesedihan tersebut.

Lazimnya sifat musik vernakular yang tinggal menunggu waktu untuk berpindah dari pinggiran ke tengah atau pusat “kebudayaan mapan”, Didi Kempot pun berpindah kancah. Beberapa tahun ini Didi Kempot moncer di level yang lebih tinggi.

Lord Didi yang sebelumnya didengarkan di wilayah pinggiran, tiba-tiba beberapa tahun ini bisa hadir di acara-acara yang konon terkenal edgy seperti di Synchronize Fest, M Bloc Jakarta, hingga di acara arus utama seperti Billboard Indonesia Music Award 2020.

Katalog lagu-lagu Didi Kempot kini juga berpindah dari medium VCD bajakan yang dijual di lapak pasar tradisional. Lagu-lagu itu kini hadir di layanan musik streaming seperti Spotify. Kepopulerannya tak terbendung, Didi Kempot memiliki 550.444 pendengar tiap bulannya di Spotify. Foto Didi Kempot bahkan mejeng menjadi sampul untuk senarai bertajuk “Boso Jowo” di Spotify.

Tentu ini memunculkan pertanyaan kenapa Didi Kempot bisa diterima di kalangan penikmat musik “indie” yang konon biasanya terlampau “snob’ dalam memilih musik yang didengarkan. Jawaban pertanyaan itu mungkin adalah karena Didi Kempot selalu mempunyai effort luar biasa untuk menjadikan musiknya relate dengan semangat zaman.

Didi Kempot bisa menjadi musisi rock dalam lagu “Ambyar” yang riff gitarnya ‘rock abis’, atau menjadi musisi koplo dalam “Pamer Bojo” yang hentakan ketipungnya sungguh progresif, bahkan musik Lord Didi dapat juga dipadupadankan dengan orkestra lengkap.

Meski lirik lagunya kebanyakan berbicara ihwal apa yang Didi sendiri sebut sebagai “cinta-guyon-cinta-guyon”, beberapa lagu Lord Didi juga berbicara tentang kritik sosial. Dalam lagu “Kuncung” misalnya, baris lirik “kawet cilik rambutku dicukur kuncung, andukku mung anduk sarung,” Didi Kempot membicarakan manusia-manusia zaman biyen yang lebih tepa selira dan komunal, sampai tukar-tukaran handuk saat mandi di kali. Berbeda dengan manusia zaman modern yang sangat individualis dan self-centered.

***

Campursari pun tak luput dari perdebatan wacana. Beberapa pihak—terutama para pengrawit, musisi purist karawitan—mungkin menganggap campursari itu adalah bentuk kitsch yang merusak kemurnian karawitan Jawa. Namun, menurut hemat saya campursarsi justru merupakan sebuah solusi tokcer agar generasi baru lebih mengenal apa itu karawitan Jawa.

Melalui campursari lah Didi Kempot dapat kita tahbiskan sebagai seorang duta budaya yang luar biasa. Ia merangkul karawitan Jawa, dan menghadirkannya dalam bentuk musik baru yang lebih ramah di telinga para sobat ambyar, sad boys dan sad girl di kancah musik arus samping nan edgy di Indonesia.

Didi Kempot berhasil menjadi semangat zaman. Di masa sulit pandemi COVID-19 ini Lord Didi membawa secercah harapan dengan membikin konser amal yang berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp7,5 M. Uang itu digunakan untuk membantu penanggulangan virus corona.

Didi Kempot akan selalu dikenang sebagai sosok musisi yang jenius dan bersahaja. Lord Didi, melalui musiknya, akan selalu merangkul kita tepat di saat kita sedang dalam kondisi ambyar. Selamat jalan The Godfather of Broken Heart. Terima kasih atas jalinan nada campursarimu yang indah tak tepermanai.

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di Pop Hari Ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.