Apakah Ulasan Musik Masih Penting?

Kemarin saya menemukan bahwa album baru Fiona Apple, Fetch the Bolt Cutters mendapat review sepuluh bintang di situs web musik Pitchfork. Iya betul, 10 bintang. Artinya, Pitchfork menilai album ini sempurna dalam segala hal, baik segi aransemen musik maupun penulisan lirik. Dan sependek pengetahuan saya, jarang-jarang media se-edgy Pitchfork menyematkan sepuluh bintang untuk sebuah album musik.

Setelah membaca ulasan Pitchfork tersebut, saya langsung tergerak untuk mendengarkan album baru Fiona Apple. Membuka Spotify, saya langsung putar album itu. Satu, dua, tiga track pertama saya menikmatinya. Dan tahu-tahu saya sudah sampai ke lagu nomor 13 saja tanpa terasa. Artinya saya mengamini ulasan Pitchfork, album ini memang sempurna di semua aspek, dan saya menikmatinya.

Seperti biasa, jika menemukan album musik yang menarik, saya langsung akan membagikan album itu di kanal media sosial saya, baik di Twitter atau Instagram. Ketika saya share album baru Fiona Apple kemarin, beberapa teman bertanya “Jadi mana nih reviewnya? Ini sih cuma berita.” Nah di sini saya berpikir, saya tuh memang suka share lagu di Instagram Stories dan menyelipkan 2-3 paragraf ulasan pendek di situ.

Tujuan saya biasa mengulas pendek musik di IG Stories? Saya hanya ingin berbagi saja. Dan saya ingin menjaga konsistensi menulis. Karena saya nggak selalu bisa menulis panjang, maka menulis pendek gitu kadang perlu untuk mengasah kemampuan menulis saya.

Namun, ini memunculkan pertanyaan tentang relevansi penulisan ulasan musik: apakah ulasan musik itu masih penting? Apakah di tengah zaman daring di mana pendengar musik bisa mencari sendiri musik yang ingin didengarkan, peran pengulas musik untuk berbagi musik-musik menarik masih diperlukan?

Di tulisan saya sebelumnya, saya berpendapat bahwa ulasan musik—atau jika tulisan itu lebih panjang, mendalam, dan komprehensif bisa disebut sebagai kritik musik—itu penting. Kenapa? Karena ia berperan layaknya legislatif yang mengawasi dan menjaga musik sebagai eksekutif agar bekerja dengan sebaik-baiknya.

Ulasan musik selain berfungsi sebagai panduan untuk pendengar menemukan musik-musik baru yang menarik, sekaligus adalah pengiring karya musik itu sendiri, ia adalah bagian dari ekosistem musik, tak terpisahkan.

Iya di zaman daring—atau 4.0 kalau meminjam istilah bung Sudjatmiko yang tidak Budiman—ini para penikmat musik memang bisa mencari sendiri musik yang ingin mereka dengarkan. Belum lagi mereka dimudahkan dengan algoritma platform musik digital seperti Spotify atau Apple Music.

Namun, sekali lagi saya tekankan peran manusia masih diperlukan di sini. Baik Spotify atau Apple Music misalnya, masih menggunakan akal budi manusia dalam mengkurasi dan menyusun senarai editorial musik mereka. Terutama di Apple Music, untuk beberapa senarai, laman artist, atau deskripsi album selalu mencantumkan barisan eksplanasi tentang entitas musik tersebut. Dan ini masih dikerjakan oleh manusia.

Sebagai penutup tulisan receh ini, saya cuma mau bilang bahwa bagi mereka para pengulas/kritikus musik profesional, atau mereka yang sebenarnya tidak secara formal bekerja di ekosistem musik namun gemar mengulas album kegemaran di blog atau kanal media sosial, tetaplah melakukannya!!!

Perkara apakah ulasan musik itu kemudian diamini oleh pembaca yang lantas mendengarkan album musik yang diulas, itu urusan belakangan. Ya namanya juga panduan kan? Ia tidak selalu harus dituruti. Yang jelas dengan masih mengulas musik, kita telah melakukan sesuatu yang penting: berbagi ilmu pengetahuan. Iya, musik adalah bentuk ilmu pengetahuan, bukan sekadar sebuah hiburan.

Jadinya, balik lagi saya mendengarkan album baru Fiona Apple. Fetch the Bolt Cutters menjadi heavy rotation saya seharian penuh. Kenapa saya suka sekali album ini? Mungkin karena saya adalah seorang pemain perkusi. Dan di album ini Fiona banyak bermain dengan perkusi di sekujur bangunan lagu. Perkusi yang saling berkelindan ini sungguh padu padan, dan saya jatuh cinta pada pola-pola itu. Sebagaimana saya jatuh cinta pada pola polyrhythm yang terkandung dalam sekujur bangunan musik album The King of Limbs milik Radiohead.

Maka, kesimpulannya, ulasan musik itu masih penting. Kesimpulan ini terdengar prematur? Yuk kita diskusikan bersama! Akan menarik sekali kalau kita bisa berdiskusi perihal topik ini kan 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: