Bahkan Orang Korea Pun Bisa Berdangdut

Gian Afrisando adalah orang pertama yang naik ke panggung. Pria yang lebih akrab dipanggil Jay ini mengenakan baju khas suku Jawa dan menenteng saluang, semacam suling khas suku Minang. Kemudian menyusul ke atas panggung Park Jiha yang memainkan Saenghwang (생황) sejenis organ pipa mulut, dan Seo Jungmin yang memainkan pianika dan Jing (징), sejenis gong tradisional Korea. Trio ini mulai memainkan alat musiknya masing-masing, pertanda dimulainya pertunjukan kolaborasi Jay & Gatra Wardaya With 숨(su:m) di panggung amphitheater Tembi Rumah Budaya (08/06/15).

Embrio pertunjukkan kolaborasi lintas negara ini lahir saat Jay Afrisando mengikuti program Cultural Partnership Initiative milik the Ministry of Culture, Tourism, & Sports of Korea pada tahun 2014 silam. Jay berangkat ke Korea Selatan untuk mempelajari kebudayaan Korea dan mengajarkan kebudayaan Indonesia kepada seniman Korea melalui wadah International Fellowship in Study of Korean Music di the National Gugak Center. Jay menjadi seniman residensi di program yang dibiayai penuh oleh the Ministry of Culture, Tourism, & Sports of Korea ini.

Buntut dari kunjungan Jay ke Korea tahun lalu adalah konser kolaborasi lintas negara yang diadakan di Tembi Rumah Budaya. Setelah kembali ke Indonesia Jay dianjurkan untuk memelihara hubungan dengan National Gugak Center atau pun dengan musisi Korea. Cara yang ditempuh Jay adalah dengan berkarya dan berkolaborasi dengan musisi Korea. Konser kolaborasi Jay & Gatra Wardaya dan su:m adalah satu cara untuk memelihara hubungan kedua negara.

Sebelumnya Jay juga pernah bermain bersama musisi Korea lainnya Gamin di Ngayogjazz 2014, dan membuat komposisi untuk solo gitar yang akan ditampilkan oleh Alex Lubet di New York dan Minnesota. Jay berkenalan dengan Alex Lubet yang merupakan seorang profesor, dan gitaris di International Gugak Workshop tahun lalu.

Pertunjukan kolaborasi Jay & Gatra Wardaya dan su:m berdurasi lebih kurang 90 menit malam itu bisa dibilang cukup istimewa karena menghadirkan dua budaya berbeda dari dua negara dalam satu panggung yang sama: Indonesia yang diwakili oleh grup jazz Jay & Gatra Wardaya, dan Korea yang diwakili duo musisi kontemporer su:m.

Keistimewaan kolaborasi grup lintas negara malam itu dapat digolongkan setidaknya dalam dua kategori: aspek musikal dan aspek kebudayaan yang menyertainya.

Dalam aspek musikal kolaborasi Jay & Gatra Wardaya bersama su:m istimewa karena secara teknis mereka mampu menggabungkan beragam instrumen atau unsur musik Indonesia dan Korea yang sebenarnya memiliki perbedaan dalam hal organologi, skala nada, dan latar belakang kebudayaan. Dengan kepiawaiannya, Jay memainkan saluang yang sesungguhnya memiliki karakter berbeda dengan alat tiup Korea saenghwang dan piri yang dimainkan Park Jiha. Memiliki scale nada yang berbeda, saluang dan piri memang tidak akan bisa benar-benar klop seperti yang terjadi saat klarinet atau flute dimainkan serempak. Untuk mengakalinya Jay dan su:m menempatkan perkara scale pada nomor kesekian, alih-alih mereka lebih fokus pada bagaimana agar keterbatasan karena perbedaan scale nada ini mampu membangun suasana atau karakter tertentu dalam setiap repertoar yang dimainkan.

Menggabungkan beragam bentuk musik yang berbeda adalah intertekstualitas yang menerabas tembok batas kontekstual.

Intertekstualitas bisa digunakan untuk menjelaskan apa yang dilakukan Jay & Gatra Wardaya bersama su:m. mereka tidak hanya menyatukan instrumen tradisional Korea seperti saenghwang, jing, dan gayageum (instrumen 25 dawai) dengan instrumen Indonesia seperti saluang dan instrumen konvensional seperti drum, bass, dan saxophone. Mereka menjumput sedikit unsur musikal dari masing-masing budayanya kemudian mencampurnya dalam satu kesatuan.

Perobohan batas ini nampak dari bagaimana tembang macapat Jawa “Pocung”, “Asmarandana”, dan “Gambuh” dimainkan dengan bentuk yang sangat tidak njawani.

“Pocung”memang ditembangkan dengan karakter nyinden ala Jawa yang kuat oleh penyanyi Achi Pradipta, namun musik yang mengiringinya adalah perpaduan dari pola keroncong dan kalau boleh dibilang freejazz. Dengan ugalugalan Jay membuat repertoar ini nakal karena setiap instrumen pengiring justru bermain ke sana kemari tanpa pola yang jelas tatkala Achi bernyanyi konstan dan rapi. Belum lagi Jungmin yang menunjukkan kadar virtuosonya dengan memetik dawai gayageum dengan gahar.

Repertoar lain bertajuk “Neo Shin Bang Gok” gubahan duo su:m adalah pengejawantahan dari sikap berkesenian dua perempuan itu: mengaktualkan musik tradisi Korea dalam kehidupan modern. s:um mengambil pola atau pattern tradisional kesenian Shin Bang Gok, kemudian mengubah liriknya menjadi sesuai kenginannya untuk mengaktualisasikannya dengan kehidupan modern.

Dalam “Gambuh”, secara apik Jay menggubah tembang macapat Jawa ini dalam bentuk baru yang mengejutkan: dangdut Minangkabau. Meski berlirik Jawa musik pengiringnya adalah dangdut minangkabau dengan liukan melodi saluang dan petikan ritmis dangdut dari instrumen gayageum.

Ditilik dari bentuk musiknya delapan repertoar yang disajikan kolaborasi ini memang tidak terlalu banyak menghadirkan bentuk musik yang secara awam disebut normal. Musik mereka bukan bentuk pakem tradisi Indonesia atau Korea. Musik mereka bisa disebut sebagai experimental atau avantgarde, atau ‘musik ugal-ugalan’ jika mengacu pada pernyataan Jay yang enggan musiknya dikotak-kotakkan dalam genre. Bahkan ada dua repertoar improvisasi yang secara spontan dimunculkan di panggung.

Mengenai bentuk musik nyeleneh dan improvisasi ini, Jay menjelaskan bahwa “improvisasi dilakukan ketika ‘persenjataan’ dan strategi dimiliki. Mereka musti paham musik yang dibangun, latar belakang budayanya secara tradisi, dan teknis musikalnya. Sehingga ketika dihadapkan pada improvisasi, pemain jadi luwes terhadap ‘kemungkinan-kemungkinan’ tidak pasti yang berjalan atas waktu bergulirnya improvisasi.”

Lebih lanjut Jay berujar, “Kalau tidak menguasai pakem, pola-pola improvisasi yang dikeluarkan biasanya jadi begitu-begitu saja karena improvisasi muncul dari pikiran bawah sadar. Ketika di pikiran bawah sadar tidak tertanam segala informasi mengenai pakem atau musik yang sudah ada, yang keluar hanyalah apa yang ada saja dan biasanya yang ngawur itu tidak mempertimbangkan bentuk musikal secara keseluruhan. Akibatnya, improvisasi jadi membosankan.”

Bentuk musik nyeleneh dan improvisasi yang ditampilkan di konser kolaborasi ini bukanlah pelarian karena tidak mampu mempelajari dan memainkan musik tradisi atau konvensional. Ini adalah bentuk eksplorasi setelah mereka menguasai yang tradisi, dan menurut mereka penting mempelajari dan menguasai yang tradisi dan konvensional terlebih dahulu sebelum memutuskan menahbiskan diri menjadi musisi experimental atau avantgarde.

Penggabungan bermacam unsur musik tradisi ini bisa jadi rawan dikritik oleh mereka yang menganggap musik tradisi adalah bentuk pakem yang tidak boleh diubah. Tapi inilah keistimewaan kedua dari kolaborasi Jay & Gatra Wardaya dan su:m: cara mereka memaknai budaya.

Budaya itu fluid, cair. Ibarat air yang harus luwes mengikuti kelokan jalur sungai, budaya harus luwes mengikuti zaman. “Budaya itu sesuatu yang hidup dan mengalir sehingga bisa berkembang dan mengikuti zaman. Ini berarti bahwa budaya adalah di mana kami hidup dan menghidupi dan bukan ikut-ikutan saja tanpa berinisiatif,” ujar Jay. Inisiatif dalam berbudaya ini tak hanya diterapkan Jay dalam pertunjukan malam itu. Sepanjang karirnya dalam Jay & Gatra Wardaya, komponis lulusan ISI Yogyakarta ini sudah melakukannya dengan mengadaptasi berbagai teks-teks sastra Jawa kuno ke dalam musik jazz.

Setali tiga uang dengan Jay, su:m memaknai budaya sebagai apa yang mereka perbuat sekarang, mengingat apa yang terjadi di masa lalu tidak terjadi di masa kini. Itu pula yang mendasari musik yang mereka ciptakan. Pandangan-pandangan masa kini memengaruhi mereka dalam bereksplorasi.

Lebih lanjut Jay menjabarkan bahwa inisiatif dalam budaya bukan berarti melupakan pakem tradisi. “Budaya sebagai sesuatu pakem tradisi juga penting supaya masyarakat masa depan bisa menyaksikan budaya zaman sebelumnya,” tutur Jay.

Jika cukup jeli mencermatinya, pemaknaan budaya sebagai aktualisasi zaman oleh kedua grup lintas negara tersebut sebenarnya adalah kritik bernas pada cara manusia Indonesia memaknai kebudayaan. Selama ini banyak pemikir kebudayaan Indonesia sibuk menghabiskan energinya untuk mengritik setiap budaya luar yang masuk ke Indonesia. Cara pandang kebudayaan Indonesia adalah menutup rapat-rapat segala yang dianggap asing dan tengah menginfiltrasi kebudayaan Indonesia nan adiluhung. Jika kita kembali memaknai budaya sebagai air yang mengalir di sungai, cara berpikir tertutup ini ibarat membuat bendungan di sungai, menutup rapat masuknya suplai air yang mengalir.

Sikap menutup diri dari budaya lain ini adalah kekurangan budaya kita. Strategi kebudayaan Indonesia sejak lama selalu memperlakukan budaya sebagai entitas suci yang harus dijaga kemurniannya. Lestari adalah kata kunci. Budaya asli yang adiluhung harus dikunci rapat agar tidak terpengaruh budaya asing yang profan. Ini adalah fundamentalisme, dan fundamentalisme menutup cara berpikir dengan nalar dan rasa yang sehat.

Fundamentalisme ini yang menjadikan banyak manusia Indonesia berpandangan etnosentris dan memuja budaya sendiri sebagai yang paling murni dan suci. Budaya yang asing dan aseng harus dilarang. Fundamentalisme ini menutup nalar berpikir untuk memahami bahwa tidak pernah ada budaya yang asli, semuanya adalah pengembangan dari budaya yang sudah ada sebelumnya.

Sempitnya pandangan kebudayaan ini yang menjadikan kita enggan membaca sejarah dan fakta bahwa kebudayaan Indonesia yang kita anggap sebagai budaya asli sekarang sebenarnya adalah remah-remah yang terkumpul dari budaya bangsa-bangsa yang pernah singgah di nusantara di masa lampau. Sebut saja Tionghoa, India, Arab, bahkan Belanda dan Jepang.

Membicarakan kebudayaan bangsa, praktis harus juga membicarakan negara, entitas politik yang menaungi bangsa tersebut melalui berbagai strategi kebudayaannya. Konser kolaborasi antara Indonesia dan Korea di Tembi ini patut dijadikan bahan pelajaran dan refleksi: bagaimana strategi kebudayaan Indonesia?

Pembelajaran mengenai strategi kebudayaan dapat kita petik dari bagaimana cara Korea Selatan membuka lebar-lebar masuknya kebudayaan luar ke negaranya. Pemerintah Korea Selatan menggelontorkan banyak dana ke Ministry of Culture, Tourism, & Sports of Korea agar membuat program pertukaran kebudayaan seperti Cultural Partnership Initiative. Mengundang sebanyak mungkin seniman dari luar negaranya untuk singgah ke Korea, mempelajari kebudayaan Korea sekaligus mempresentasikan kebudayaannya masing-masing.

Strategi kebudayaan ini memberikan dua keuntungan bagi Korsel: mempromosikan budaya Korea yang sudah mapan kepada budayawan negara lain, sekaligus mempelajari kebudayaan bangsa lain yang dibawa budayawan terundang. Dari situ Korsel memiliki arsip kebudayaan dunia untuk dipelajari, mana yang bisa dikembangkan di negaranya. Hasilnya, budaya Korea Selatan sangat mapan dan kini berdiaspora ke seluruh dunia. Baik musik, gaya hidup, ataupun produk ekonomi.

Strategi kebudayaan Indonesia seharusnya bisa seperti ini. Daripada menghabiskan banyak dana dan tenaga untuk menutup rapat keadiluhungan dan mempromosikannya sebagai eksotisme nusantara dengan banyak mengirim delegasi budaya nan eksotis ke luar negeri atau menggelar pelbagai festival-festival budaya seremonial tahunan di dalam negeri, kenapa tidak memperhatikan pengembangan kebudayaan?

Perubahan harus segera dilakukan demi menghentikan kemandegan kebudayaan Indonesia ini. Bendungan (keadiluhungan) yang menghentikan aliran air (kebudayaan) harus dijebol. Kita harus mau belajar sebanyak mungkin kebudayaan dari seluruh dunia agar dapat meninggalkan bekal formula kebudayaan yang kaya bagi generasi mendatang.

Dengan membuka diri pada kemungkinan pengembangan kebudayaan ini, bukan tidak mungkin kelak kebudayaan Indonesia akan benar-benar berdiaspora ke seluruh dunia. Bahkan orang Korea pun bisa berdangdut. Persis su:m, duo asal Korea yang memainkan tembang Jawa kuno dalam bentuk musik dangdut di konser kolaborasinya bersama Jay & Gatra Wardaya.

Pemerintah Indonesia harus segera membuang mental fundamentalisme budayanya dan menyusun strategi kebudayaan yang lebih ramah pada aspek pengembangan. Negara jarang hadir dalam perkara pengembangan ini, alih-alih justru secara independen banyak seniman, budayawan, dan kantong kebudayaan non-pemerintah yang melakukannya.

Sampai saat konser kolaborasi yang digelar oleh Jay & Gatra Wardaya dan su:m di Yogyakarta kemarin pemerintah belum punya itikad baik akan pengembangan ini. Salah satu bukti tidak hadirnya negara ini tertera dalam pamflet yang dibagikan di pintu masuk venue. Konser kolaborasi lintas budaya ini didukung oleh Korea Foundation, lembaga resmi pemerintah Korea Selatan. Sementara pihak Indonesia yang mendukung justru adalah Tembi Rumah Budaya, sebuah lembaga kebudayaan non-pemerintah. Setelah ditampilkan di Yogyakarta, konser kolaborasi ini juga akan ditampilkan di Jazz Gunung (Probolinggo) dan Pertemuan Musik Surabaya (Jawa Timur). Keduanya sama dengan Tembi Rumah Budaya adalah lembaga non-pemerintah.

Mengenai kurangnya itikad baik pemerintah melakukan pengembangan kebudayaan ini dapat dilihat dari bagaimana proses produksi konser kolaborasi lintas negara yang digelar Jay. Menurut Jay birokrasi pemerintah saat seniman ingin meminta dukungan ranah kebudayaan terlalu rumit. Danais (dana keistimewaan) misalnya hanya bisa ditembus dengan proposal yang sudah diajukan satu tahun sebelum diadakannya pagelaran. Begitu juga dengan kementerian di bidang kebudayaan atau ekonomi kreatif memiliki pola birokrasi yang tak kalah rumit.

Atas dasar pertimbangan inilah Jay lebih suka menggaet lembaga kebudayaan non-pemerintah atau komunitas atau pihak swasta sebagai sponsor karena birokrasi mereka tidak terlalu rumit. Kerjasama dengan pihak non-pemerintah inilah yang membuat konser kolaborasi lintas budaya Indonesia dan Korea ini dapat terlaksana. Mirip dengan kredo para anarkis yang sering berujar “Teruslah bekerja! Jangan berharap pada negara”, pernyataan terakhir Jay dalam sesi wawancara untuk tulisan ini adalah kritik telak bagi negara: “nek nunggu negara kesuwen. Mending gerak dewe wae.” (Kalau menunggu negara terlalu lama, lebih baik bergerak sendiri saja).

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di situs web Jakartabeat pada 2015 silam. Karena Jakartabeat sudah tidak aktif lagi, tulisan ini saya muat ulang di sini untuk tujuan pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: