Ihwal Kesehatan Mental di Blantika Musik Nusantara

“Bung, bisa menulis tentang isu kesehatan mental dan musik lokal?,” ujar Anto Arief, redaktur Pop Hari Ini lewat WhatsApp. Walaupun saya belum kepikiran akan menulis seperti apa untuk isu ini—karena sebelumnya saya pernah menuliskan topik yang sama—tapi saya iyakan saja todongan Bung Anto itu. Kenapa? Karena menurut saya bicara ihwal kesehatan mental, serta irisannya dengan musik itu sungguh penting.

Bicara mengenai kesehatan mental bak bicara tentang hantu. Ia tak kasat mata. Tapi ada. Dan lazimnya hantu, eksistensinya sering bikin geger orang seantero kampung [global].

Ambil contoh saat film Joker tayang, jagad media sosial langsung riuh dengan ihwal kesehatan mental. Ada yang melakukan self-diagnosed bahwa dirinya adalah ODGJ, Orang Dengan Gangguan Jiwa. Ada yang bilang self-diagnosed itu berbahaya, beberapa orang tiba-tiba menjadi pakar karbitan yang secara simultan mengunggah posting-an tentang mental health. Sampai buntutnya beberapa pakar beneran harus turun gunung untuk meredam kegegeran ini.

Itu baru dipicu kisah malih rupa Arthur Fleck menjadi Joker. Di—penghujung—tahun 2019, isu kesehatan mental juga menjadi perhatian yang cukup intens di Indonesia karena ada sekian musisi yang menjadi palu penggetok tentang pentingnya melek isu mental health. Ini dapat dilihat dari bagaimana beberapa musisi lokal menggubah musik yang sedikit banyak dan secara langsung atau tidak langsung bicara isu tersebut.

Beberapa musisi yang mengangkat isu kesehatan mental di musiknya, sebut saja di antaranya ada Hindia, Tulus, Barasuara, Kunto Aji, Isyana Sarasvati, dan Auretté and The Polska Seeking Carnival.

Menurut hemat saya, sepanjang sejarah blantika musik Indonesia, baru tahun ini akhirnya ada begitu banyak musisi yang menggunakan musik gubahannya sebagai media untuk lebih meningkatkan awareness alias kesadaran publik akan pentingnya kita peduli dengan ihwal kesehatan mental.

Sepenting apa bicara tentang kesehatan mental? Penting sekali. Ini adalah masalah serius. Statistik sudah berbicara bahwa gangguan mental adalah salah satu ancaman kesehatan yang paling nyata dan berbahaya di kehidupan manusia modern ini. Organisasi kesehatan dunia WHO mencatat setidaknya ada 350 Juta orang di seluruh dunia mengidap depresi, depresi adalah salah satu gangguan kejiwaan yang tergolong berat dan berbahaya. Sementara itu, wabilkhusus di Indonesia, pengidap depresi mencapai angka 3.7 persen, atau sekitar 9 juta orang dari total 260 Juta jiwa penduduk Indonesia.

Jumlah pengidap gangguan kejiwaan sebesar ini tidak sebanding dengan jumlah pakar atau profesional yang bergerak di bidang psikiatri atau penanganan gangguan kejiwaan. Di Indonesia, dengan jumlah penduduk sebesar 260 Juta jiwa, hanya ada sekitar 773 Psikiater dan 451 Psikolog Klinis.

Selain kurangnya tenaga medis kesehatan mental, rendahnya awareness atau kesadaran, serta stigma juga adalah salah satu duri dalam daging di ihwal kesehatan mental ini. Stigma bahwa pengidap gangguan mental itu gila, dan gila berkonotasi negatif, makin memperparah kondisi ini.

Dalam rangka meningkatkan kesadaran publik tentang kesehatan mental, beberapa musisi di blantika musik Indonesia menyelipkan pesan-pesan edukatif dalam musiknya. Kunto Aji misalnya. Lewat album keduanya dengan tajuk Mantra Mantra, MZKUN secara serius menggarap album itu agar benar-benar ramah terhadap mental para pendengarnya. Misalnya dalam lagu “Rehat” ia menyelipkan frekuensi 396 Hz yang menurut penelitian dapat mengenyahkan pikiran negatif, dan menyehatkan mental.

Gagasan Kunto Aji menyisipkan frekuensi 396 Hz ke dalam lagunya memunculkan sebuah pertanyaan: apakah musik memang bisa memengaruhi kondisi mental seseorang?

Musikolog dari Art Music Today, Erie Setiawan mengungkapkan bahwa musik adalah perkara bunyi dan frekuensi. Maka, langkah Kunto Aji sebenarnya cukup tepat karena musik gubahannya memang dapat memengaruhi mental pendengarnya.

“Frekuensi itu hukumnya mutlak, banyak range yang dalam sebaran tertentu itu punya dampak tertentu. Secara kasat sebetulnya tidak harus selalu terdengar, dan Kunto Aji memasukkan itu,” ujar Erie Setiawan.

Namun, lebih lanjut menurut Erie, tidak serta merta kemudian musik yang berperan sentral memengaruhi kondisi mental seseorang. Menurutnya, ada faktor lain yang tak kalah penting, yaitu lingkungan sekitar, dan kesadaran sang pendengar.

“Musik dan kesehatan mental tidak harus berpijak pada produk musiknya, itu harus menjadi kesadaran menyeluruh. Musik itu dikemas memasukkan banyak unsur-unsur yang memengaruhi. Tapi kalau kondisi manusia tetap tinggal dalam kondisi yang tidak ramah bagi telinganya, atau dia tidak mengkondisikan seperti itu, ya sama saja menurutku,” lanjut Erie.

Sementara itu, menurut pendapat Rifki AP, jebolan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang belakangan aktif berdinamika bersama support group eksperimental id.overthinkers di Jogja, musik menyuguhkan satu ruang aman seseorang untuk jujur.

“Hal ini [ruang aman: red] sulit didapati jika dihadapkan pada norma umum. segala yang normatif dan dianggap wajar, layak, dan semacamnya. Musik menyuguhkan semacam kepercayaan bahwa ada realita lain dalam lagu. ada kemungkinan (kontingensi, utopia) yang bisa dipercaya untuk sejenak,” ungkap Rifki.

Dari dua pendapat pakar di atas, saya kemudian penasaran: bagaimana dari kacamata mereka yang memiliki masalah dengan kejiwaan? Apakah benar musik dapat menjadi ruang aman untuk mereka? Apakah musik adalah obat yang tokcer mengenyahkan gangguan kejiwaan?

Maka saya berinisiatif menghubungi beberapa kawan yang saya tahu memiliki isu mental. Amarawati Ayuningtyas adalah seorang karyawan swasta yang menetap di Yogyakarta. Mara memiliki isu mental di mana ia mengidap major depression dan anxiety. Saat ini Mara rutin konseling ke psikolog untuk mengatasi isunya tersebut. Tak hanya ke psikolog, rupanya Mara juga menjadikan musik sebagai salah satu media untuk mengatasi isu mentalnya. Dan saat Mara sedang dalam kondisi mentally unstable, ia memilih satu artis spesifik yang musiknya ia dengarkan agar kondisinya membaik: Tulus.

Mara memilih “Langit Abu-Abu” dan “Lekas” sebagai lagu favoritnya. Menurut Mara lirik dua lagu milik Tulus seperti pengingat, refleksi di beberapa hal ke dirinya. Lirik itu beririsan dengan kondisinya.

“Dulu psikologku selalu bilang self talk, self talk, self talk setelah itu tulis diary. Jadi saat aku depresi, nangis aku biasanya dengerin lagu ini, saat dengar bagian lirik ini, aku jadi inget diriku, mesti nulis. Lebih ingetin sesuatu yg dibilang psikologku dan lirik dia ke diriku. Tiap kali dengar, aku nangis, nangis karena aku perlu bertemu diriku, diriku yang perlu aku kenali,” tutur Mara.

Lain Mara, lain lagi Bunga. Pekerja yang memiliki nama lengkap Bunga Irmadian dan menetap di Jakarta ini adalah seorang ODS, Orang Dengan Skizofrenia. Jika Mara memilih musik Tulus sebagai katarsis, maka Bunga lebih memilih mendengarkan Hindia. Terutama dua lagu yang paling disukainya “Secukupnya” dan “Jam Makan Siang”.

Menjadi seorang Bunga adalah sesuatu yang cukup berat. Karena diagnosis skizofrenia itu, Bunga tidak bisa berhenti mengkonsumsi obat-obatan. Namun, ada kalanya ia skip obat-obatan tersebut karena kesibukannya bekerja hingga ia lupa meminum obatnya. Di saat berhenti meminum obat itu biasanya Bunga kemudian akan mengalami mentally unstable. Di saat seperti itu, Bunga mendengarkan musik gubahan Baskara Putra agar ia mampu melepaskan emosi yang membuncah di diri.

“Pas lagi skip minum obat biasanya mentally unstable terus suddenly denger lagu-lagu dengan tema kesehatan mental gitu aku biasanya langsung nangis kejer. Dan kayaknya itu mediaku untuk menyalurkan emosi-emosi itu sih lewat nangis dan dengerin lagu itu,” ujar Bunga.

Menyimpulkan sesuatu dari kelindan musik dan kesehatan mental ini dengan hanya berkaca pada kisah Mara dan Bunga tentu saja tidak dapat dilakukan. Karena setiap orang tentunya memiliki kondisi mentalnya masing-masing, setiap orang memiliki musik kegemarannya. Namun, setidaknya kisah Mara dan Bunga mengamini apa yang dikatakan Erie dan Rifki di atas: musik, bagaimanapun bentuknya, dapat menjadi salah satu media katarsis, atau ruang aman dalam bahasa Rifki.

Jika kita kemudian ingin mengamini perkataan Erie, bahwa selain musik, harus ada kesadaran penuh seseorang dan lingkungan yang sehat, maka sudah menjadi kewajiban kita semua untuk mulai menciptakan kesadaran-kesadaran tersebut, dan mengkondisikan lingkungan sekitar agar lebih sehat dan ramah kesehatan mental.

Cara paling mudah yang bisa kita lakukan misalnya dengan turut serta membangkitkan kesadaran publik akan pentingnya menjaga kesehatan mental. Jika Barasuara melakukannya dengan menciptakan lagu “Pikiran dan Perjalanan”, atau Isyana Sarasvati yang mendendangkan “Untuk Hati yang Terluka”, atau Kunto Aji yang memeluk erat para fans di akhir video “Pilu Membiru (Experience)”, kita juga harus bisa melakukan hal yang sama, sesuai kapasitas kita.

Kita patut sadar bahwa barangkali ucapan selamat pagi, atau terima kasih, atau pelukan hangat kita pada orang terdekat dapat membantunya keluar dari lingkaran setan gangguan mental. Kita harus paham benar, bahwa lingkungan media sosial kita belakangan ini sudah sangat toxic, dan bisa menimbulkan korban jiwa.

Masih segar di ingatan kita saat beberapa waktu yang lalu Bintang K-Pop Sulli dan Goo Hara memutuskan mengakhiri hidup karena menjadi korban cyberbullying. Sulli dan Goo Hara menjadi martir, korban keganasan industri budaya pop Korea Selatan, dan kejamnya penghakiman a la media sosial.

Baik sebagai musisi atau pendengar di blantika musik Nusantara, menjadi tanggungjawab kita untuk saling jaga satu sama lain. Saling menguatkan. Saling mengingatkan: ihwal kesehatan mental ini harus kita ruwat dan rawat bersama.

Catatan: Jika anda memiliki masalah dengan gangguan mental, jangan merasa sendirian. Anda tidak sendirian dan bisa mengungkapkan apa yang anda rasakan ke keluarga atau teman terdekat. Atau bisa juga menghubungi komunitas yang peduli dengan isu kesehatan mental seperti Into The Light Indonesia, Bipolar Care Indonesia, atau Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia. Jika anda merasa sudah sangat membutuhkan bantuan profesional, jangan ragu ke pakar seperti psikolog atau psikiater.

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di Pop Hari Ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: