Dangdut Sebagai Media Kampanye Politik

Dangdut adalah salah satu musik yang paling populer dan paling digemari masyarakat Indonesia. Namun, sejak tahun 70-an hingga sekarang dangdut tetap mendapatkan stigma sebagai musiknya rakyat atau musik kalangan menengah ke bawah. Stigma yang melekat ini yang menjadikan dangdut kemudian dimanfaatkan oleh politisi maupun partai politik untuk menjadi media kampanye politik. Dangdut digunakan sebagai alat mobilisasi massa, untuk mengumpulkan sebanyak mungkin orang ke sebuah titik kemudian para politisi akan menyampaikan orasi politiknya.

Penelitian ini bertujuan mencari deskripsi bagaimana relasi-kuasa yang terjadi dalam penggunaan musik dangdut sebagai media kampanye politik. Locus atau lokasi penelitian berada di Yogyakarta dengan focus sebuah grup dangdut bernama Gilas OBB yang disewa oleh salah satu parpol untuk bermain di kampanye terbuka mereka.

Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa ternyata relasi-kuasa yang terjadi dalam kasus ini persis seperti yang diungkapkan Michel Foucault bahwa kuasa berjalan dalam dua arah, setiap ada kuasa pasti ada perlawanan. Bahwa musik dangdut sebagai sebuah musik dengan bentuk yang sederhana dan mudah dipahami penikmatnya ternyata hanya sebatas sebuah alat mobilisasi massa dalam kampanye politik, tidak serta merta memengaruhi ideologi masyarakat. Ini terbukti saat kuasa (partai politik) mengadakan kampanye, masyarakat yang hadir dalam kampanye (para penikmat dangdut) tidak serta merta mengikuti ideologi partai dan menganggap musik dangdut yang dihadirkan sebatas sebagai hiburan.

Begitu juga dengan Gilas OBB yang tidak serta merta mengikuti ideologi partai yang menyewanya, mereka melawan dengan menyatakan diri sebagai netral dan apatis.

Kata kunci: dangdut, politik, relasi-kuasa.

Ini adalah abstrak dari skripsi saya yang tuntas pada tahun 2014 silam. Jika anda berminat membaca keseluruhan naskah, sila kirim surel ke saya di arisgrungies@gmail.com

——–

Dangdut is one of Indonesian notably-admired and most popular musics. However, since 1970s to current days, dangdut still holds stigma related to lower-middle class society audiences. This stigma makes dangdut used by politicians or any political party to hold their campaigns along. Dangdut is utilized as mass mobilization tool, gathering people to where politicians will conduct their speeches.

This research aims to comprehend how power relation occurs on dangdut usage as political campaign media. The locus will be hold in Yogyakarta, which focus is laid on dangdut group titled Gilas OBB which once asked by one political party to be on stage along with the party campaign.

The result of this research concludes that the power-relation occurred in this matter, is, as the matter of fact, suitable with Michel Foucault theory about how the power walks along in two paths which eventually results its own counter. Dangdut’s characteristics of simplicity and easily-understood by its audiences eventually have been seen merely as mass mobilization tool which has nothing to do with initiating ideology to society. This has been proved when power (political party) holds campaign involving society (dangdut spectator) while the people don’t relate party’s ideology with dangdut of which they experience and see it only as sole entertainment.

Accordingly, Gilas OBB as the performer didn’t amenably follow the ideology of political party which paid them, and instead, they carry on and declare their neutrality and apathy approach in this matter.

keyword: dangdut, politics, power relation

This is an abstract of my thesis that was completed in 2014 ago. If you are interested in reading the entire script, please send me an email at arisgrungies@gmail.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.