Mengapa Musisi Rentan Depresi Hingga Bunuh Diri

Foto dari walesonline.co.uk
Richey Edwards (Foto dari walesonline.co.uk)

Setelah meninggalnya musisi kondang DJ Avicii di Oman pada 20 April silam, saya memikirkan ulang ihwal musikus, depresi, dan meninggalnya mereka karena bunuh diri. DJ Avicii diketahui mengakhiri hidupnya sendiri. Pihak keluarga menyatakan bahwa Avicii mengidap depresi, ia terus berjuang dengan pikiran mengenai arti, hidup, dan kebahagiaan. “Avicii tak bisa lagi melanjutkan hidup, ia ingin merasakan kedamaian,” tutur pihak keluarga.

Napak tilas ke belakang, kita ingat betapa tragisnya kisah kematian Kurt Cobain pada medio 90-an. Kurt Cobain menembakkan senapan ke kepalanya. Tidak hanya itu, belakangan dalam darah Cobain ditemukan kandungan heroin dan obat golongan benzodiazepine dalam jumlah yang besar. Obat golongan benzo ini dikenal sebagai salah satu obat paling tokcer untuk mengenyahkan depresi.

Tahun 2017 lalu, Chris Cornell, vokalis grup band Soundgarden dan Audioslave memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri. Tak dinyana, keputusan Cornell mengakhiri hidupnya ternyata menjadi semacam trigger bagi Chester Bennington. Vokalis Linkin Park ini memutuskan juga untuk mengakhiri hidup di hari ulang tahun mentor rock n roll-nya tersebut, dengan cara yang sama.

Depresi tidak pernah mendiskriminasi, siapa pun bisa kena. Depresi ibarat bom waktu yang akan meledak pada saat trigger atau pemicu muncul. Tua, muda, kaya, miskin, gemuk, kurus, semuanya bisa mengidap depresi. Namun, asumsi saya, para musisi adalah golongan manusia yang lebih rentan mengidap depresi. Di luar asumsi saya, penelitian menyimpulkan bahwa ada rantai keterhubungan antara depresi dan orang-orang yang memiliki otak kreatif. Para ilmuwan menyebut hubungan antara kreatifitas dan depresi ini sebagai the dark side of creativity.

Secara spesifik, musik juga bisa dikaitkan sebagai laku kreatifitas. Maka, musisi rentan mengidap depresi. Depresi ini bisa berubah dari akut menjadi kronis. Misalnya Chris Cornell dan Chester Bennington. Mereka melawan depresi selama puluhan tahun. Walau pada akhirnya menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup.

Kenapa musisi rentan mengidap depresi? Menurut hemat saya, ini karena beban pengkaryaan yang harus ditanggung musisi terbilang berat. Dalam proses penciptaan musik, mereka harus menerapkan tiga hal sekaligus: (1) sains, (2) jurnalisme, dan (3) ilmu gaib.

Pertama, sains. Musik adalah sistem tanda, perkara saintifik: tentang bagaimana frekuensi-frekuensi (dari alat musik atau pita suara) disusun dengan algoritma (tempo, melodi, ritme, harmoni, dll) agar menjadi satu kesatuan bunyi yang utuh dan seimbang. Jadi musikus di sini sedang melakukan proses penalaran. Bersenjatakan nalar, musisi akan memperhitungkan bagaimana jika nada ini diolah dengan harmoni dalam ritme dan tempo sedemikian rupa. Di sini musisi bekerja dengan hitung-hitungan layaknya matematika.

Kedua, jurnalisme. Pada dasarnya musik adalah reportase, ia menyampaikan pesan. Si musikus mengetahui sebuah peristiwa, lalu ia melaporkan, menyelipkan pesan tentang peristiwa itu di dalam musik yang ia gubah. Ingat kredo “the medium is the message” Marshal McLuhan? Musik adalah pesan. Bahkan terkadang musikus menggubah karya instrumental tanpa syair atau lirik, musik itu mengandung pesan yang bisa dipahami tanpa perlu bantuan lirik.

Ketiga, ilmu gaib. Ini agak bertentangan dengan sains. Tetapi musikus itu bak dukun. Mereka harus menciptakan musik yang mengandung sesuatu yang tak kasat mata di dalamnya. Sesuatu yang gaib dan tak kasat mata itu yang menggetok kepala dan menyentil perasaan pendengarnya. Contohnya, kadang kita menangis saat mendengarkan musik tertentu. Alam bawah sadar kita memaknai musik tersebut sebagai musik yang sedih, maka kita akan menangis.

Dengan tuntutan dan tekanan internal yang demikian besar, mengerjakan tiga hal sekaligus dalam penciptaan karya—belum lagi kalau bicara perkara eksternal seperti perkara industri, tetek bengek kehidupan, hingga perkara kapitalisme yang menyetir jalannya nasib sang musisi—wajar jika musisi rentan terkena depresi.

Kenapa beberapa musisi kemudian sampai bunuh diri? Mungkin mereka sampai di titik nadir pemikiran. Mereka kelelahan melawan si hantu hitam.

Depresi itu ibarat hantu hitam. Ia hinggap ke tubuh korbannya, lalu menggelayuti tubuh si korban. Si hantu menyedot kebahagiaan, asa, dan cita-cita seseorang. Depresi bikin seseorang merasa tidak berguna, putus asa, dan isi kepalanya penuh dengan pikiran bunuh diri untuk mengakhiri semua nestapa yang menimpa.

Berbicara mengenai musisi dan depresi, gatal rasanya kalau tidak membahas sosok ini: Richey Edwards. Belakangan kugiran rock asal Britania Raya, Manic Street Preachers yang dikenal dalam format trio. Dulunya Richey adalah anggota keempat, ia berperan sebagai gitaris rhythm dan lirikus.

Richey mengidap depresi kronis, dan sering melukai diri sendiri. Kondisinya itu kebanyakan dituliskan menjadi lirik untuk Manic Street Preachers. Misalnya di album The Holy Bible, Richey menulis tentang politik, depresi, keputusasaan, bunuh diri, hingga perkara aborsi.

Ada satu cerita menarik—atau tragis—tentang perilaku self-harm Richey. Dalam sebuah sesi wawancara, saat jurnalis NME bertanya, “Seperti apa estetika musik Manic Street Preachers?”, alih-alih menjawab, Richey malah menuliskan “4 REAL” di tangan kirinya, dengan sayatan silet, bukan pulpen.

Pada 1 Februari 1995 di London, sebelum Manic Street Preachers berangkat tur ke Amerika Serikat, Richey menghilang. Tanpa meninggalkan pesan apa pun. Dalam pencarian oleh keluarga dan pihak berwajib, mobil Richey ditemukan di dekat jembatan Severn. Jembatan itu terkenal sebagai lokasi untuk bunuh diri.

Tidak ada jenazah ditemukan, maka Richey dinyatakan menghilang, bukan meninggal. Status menghilang Richey bertahan sepanjang pencarian yang dilakukan berpuluh tahun. Hingga akhirnya tahun 2008 silam keluarga Richey, pihak Manic Street Preachers, dan pihak berwajib menghentikan pencarian dan mengubah status Richey, dari menghilang menjadi meninggal dunia.

Di dalam dunia musik populer, dikenal yang namanya 27 Club. Klub ini berisi para musisi—atau artis bidang seni lainnya—yang meninggal dalam usia 27 tahun. Sebagian besar anggota klub ini mengakhiri hidupnya sendiri setelah perjuangan panjang melawan depresi. Beberapa pesohor musik yang termasuk dalam klub ini adalah Kurt Cobain, Jimi Hendrix, Janis Joplin, Amy Winehouse, dan masih banyak lagi. Richey Edwards berusia 27 tahun saat menghilang. Secara otomatis ia menjadi anggota 27 Club.

***

Lalu apa kesimpulannya? Bahwa depresi dan kesehatan jiwa ini tidak bisa dianggap enteng. Ini masalah serius. Statistik menunjukkan bahwa jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) terbilang cukup besar. Data WHO menyebutkan bahwa 350 Juta orang di seluruh dunia mengidap depresi. Sementara itu secara spesifik di Indonesia, jumlah pengidap depresi mencapai 3,7 persen, atau 9 juta orang dari jumlah 250 juta penduduk Indonesia.

Di dalam ilmu psikologi dikenal yang namanya coping mechanism. Ini adalah strategi yang secara sadar kita terapkan untuk menangani stress, kecemasan, hingga depresi. Coping mechanism berfungsi sebagai alat untuk menjaga keseimbangan dan stabilnya emosi. Cara melakukan coping mechanism ini tentu berbeda di setiap individu. Ada yang melakukan olahraga, beberapa menggeluti hobi seperti berkebun atau piknik. Beberapa memutuskan memelihara kucing atau hewan peliharaan lainnya. Coping mechanism adalah metode unik yang bisa dilakukan sesuai masing-masing individu.

Mari kita menjaga kesehatan mental kita agar supaya hidup lebih berarti. Yang masih sehat, berjuanglah agar tetap sehat. Yang kadung sakit, berjuanglah agar sembuh. Secara khusus untuk para musisi, coping mechanism bisa dilakukan barangkali dengan meninggalkan sejenak rutinitas bermusiknya, dan melakukan sesuatu yang bisa mendistraksi pikiran. Sesuatu di luar urusan nada dan irama.

Jika perlu bantuan profesional seperti psikiater, jangan ragu dan pergilah berobat. Karena depresi hanyalah sebuah fase yang pasti akan berlalu dan terlewati.

Musisi adalah influencer bagi penggemarnya. Jamak kita ketahui bahwa di belahan dunia mana pun, akan ada orang yang mengidolakan satu atau dua musisi. Lalu meniru apa pun tindakan sang musisi mulai dari cara berpakaian, gaya rambut, hingga attitude. Perkara menjadi influencer ini penting. Contohnya adalah bagaimana Chester Bennington mengagumi Chris Cornell, lalu memutuskan mengikuti jejak Cornell dan mengakhiri hidup. Maka, menjadi kewajiban bagi musisi untuk menjaga kewarasan mereka, agar para penggemar atau siapa pun yang mengikuti sepak terjang musisi tersebut juga ikut menjaga kewarasan dan kesehatan mental.

Semoga kita semua terhindar dari depresi yang terkutuk.

*Pernah dimuat di The Geo Times pada 26 Mei 2018.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: